Pagi itu jam setengah enam, saya sudah nongkrong di pasar dekat rumah. Bukan karena ada acara penting, cuma memang sejak pensiun tiga tahun lalu, belanja pagi jadi semacam olahraga ringan yang bikin hati senang. Tukang sayur langganan saya, Bu Sri, langsung nyolek, "Pak, kemanginya lagi segar nih, baru turun dari gunung." Ya sudah, saya borong seikat. Di sebelahnya ada tahu putih yang masih anget, baru saja diangkat dari cetakan. Dua bahan itu saja sudah cukup bikin saya tahu mau masak apa hari ini.
Pepes tahu kemangi. Itu dia. Sederhana, murah, tapi rasanya nggak pernah gagal bikin nasi di meja cepat habis. Istri saya yang biasanya doyan masak, hari itu lagi males ke dapur. Jadi saya yang turun tangan. Dan jujur saja, sejak pensiun ini saya jadi sadar bahwa masak rumahan itu bukan soal jago atau nggak jago — yang penting tahu urutannya dan nggak panik.
Baca juga: Dulu Gue Percaya Mitos Dapur Ini, Anak Kos Wajib Baca Faktanya
Kenapa Pepes Cocok Buat yang Sudah Pensiun
Mari saya cerita sedikit. Dulu waktu masih kerja, masak itu rasanya kayak proyek tambahan. Pulang kantor badan capek, mau masak apa pun rasanya berat. Sekarang? Waktu lebih longgar, tapi tenaga juga nggak sebanyak dulu. Nah, pepes itu pas banget di posisi ini.
Pertama, bahannya murah dan gampang dicari. Tahu, kemangi, bumbu dapur biasa. Nggak ada yang harus dipesan lewat aplikasi atau dibeli di supermarket mahal. Kedua, prosesnya nggak butuh berdiri lama di depan kompor. Cuma numpis bumbu sebentar, lalu kukus atau panggang. Sambil nunggu matang, saya malah bisa baca koran atau nyiram tanaman.
Ketiga — dan ini yang paling saya suka — pepes itu ramah lambung. Bumbunya ringan, nggak banyak minyak, dan tahunya lembut. Buat kita yang sudah masuk usia ini, makan yang nggak bikin perut begah itu berkah tersendiri. Saya pernah coba masak yang digoreng-goreng heboh, eh malah mules. Sejak itu, pepes jadi andalan.
Masak buat orang tua itu bukan soal ribet atau nggak, tapi soal badan masih kuat atau nggak habis masak.
Resep Pepes Tahu Kemangi: Bahan dan Takarannya
Resep ini saya dapat dari ibu saya dulu, lalu saya sesuaikan dengan selera rumah. Takarannya untuk dua sampai tiga orang. Kalau kamu masak buat sendiri, tinggal dibagi dua saja.
Bahan yang perlu disiapkan
- 4 potong tahu putih ukuran sedang, sekitar 300 gram, tiriskan dan haluskan kasar pakai garpu
- 2 ikat kemangi, petik daunnya saja
- 3 siung bawang merah
- 2 siung bawang putih
- 2 butir kemiri, sangrai dulu biar wangi
- 1 ruas kunyit, sekitar 2 cm
- 1 batang serai, ambil bagian putihnya, iris tipis
- 3 lembar daun salam
- Garam secukupnya, kira-kira setengah sendok teh
- Sedikit gula pasir, seujung sendok saja
- Daun pisang untuk membungkus, bisa diganti aluminium foil kalau susah cari
Kalau mau lebih gurih, boleh tambah satu butir telur ayam yang dikocok lepas. Tapi kalau sedang jaga kolesterol, skip saja, tetap enak kok. Saya sendiri sering bolak-balik: kadang pakai telur, kadang tidak, tergantung hasil cek darah terakhir, haha.
Cara membuatnya, langkah demi langkah
Pertama, haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, dan garam. Saya pakai ulekan biasa, bukan blender. Bukan karena anti teknologi, tapi karena jumlahnya sedikit, ulekan malah lebih cepat dan cuciannya cuma satu. Kalau kamu punya cobek, pakai itu.
Setelah bumbu halus, campurkan ke tahu yang sudah dihaluskan kasar tadi. Masukkan irisan serai, gula, dan separuh daun kemangi. Aduk rata pakai tangan atau sendok. Jangan diulek lagi, nanti tahunya terlalu lembek dan pepes jadi bubur.
Lalu siapkan daun pisang. Saya biasanya layukan dulu di atas api sebentar supaya nggak sobek waktu dilipat. Taruh satu lembar daun salam di dasar, sendokkan adonan tahu, lalu taburi sisa daun kemangi di atasnya. Bungkus seperti amplop, sematkan lidi di kedua ujung.
Terakhir, kukus sekitar 25 menit di kukusan yang sudah dipanaskan. Kalau mau aroma lebih kuat, setelah dikukus bisa dipanggang sebentar di atas teflon tanpa minyak, sekitar 3 menit tiap sisi. Wanginya langsung menyebar ke seluruh rumah, dan itu momen favorit saya — istri biasanya muncul dari kamar sambil nanya, "Sudah matang?"
Catatan Kecil dari Dapur Saya
Ada beberapa hal yang saya pelajari setelah beberapa kali masak pepes ini. Pertama, jangan pelit kemangi. Daun itu yang bikin aroma pepes khas, kalau kurang rasanya jadi hambar. Kedua, tahu harus benar-benar ditiriskan. Kalau masih berair, pepes jadi lembek dan nggak enak dimakan.
Ketiga soal garam. Karena bumbunya sedikit, garam gampang kebablasan. Saya sarankan cicipi adonan sebelum dibungkus. Kalau perlu, kukus satu bungkus kecil dulu sebagai tes. Repot sedikit, tapi lebih baik daripada sepanci pepes keasinan dan harus dimakan dengan hati berat.
Oh iya, soal daun pisang. Di pasar dekat rumah, satu ikat cuma lima ribu rupiah, cukup untuk belasan bungkus. Kalau kamu tinggal di kota yang susah cari daun pisang, aluminium foil bisa jadi pengganti. Rasanya sedikit berbeda, aromanya nggak sekuat daun, tapi tetap enak dan praktis. Saya pernah coba waktu menginap di rumah anak saya di Jakarta, dan hasilnya lumayan juga.
Menu Sederhana, Momen yang Nggak Sederhana
Yang menarik dari masak rumahan di usia pensiun ini bukan cuma soal makanannya. Tapi soal prosesnya. Bangun pagi, jalan ke pasar, ngobrol sama Bu Sri, milih kemangi, lalu pulang dan masak sambil dengar radio. Semua itu jadi semacam ritme baru yang bikin hari terasa penuh, meski isinya cuma pepes tahu.
Istri saya bilang, pepes buatan saya lebih enak dari yang dia masak. Saya yakin itu cuma suapan biar saya rajin masak, tapi ya sudahlah, saya terima saja. Yang jelas, sejak rutin masak menu-menu sederhana seperti ini, pengeluaran dapur kami malah lebih hemat. Tahu dan kemangi itu murah, tapi hasilnya bisa jadi lauk yang layak disantap bareng nasi hangat dan sambal terasi.
Kalau kamu juga sudah masuk masa pensiun atau sedang menikmati waktu lebih longgar di rumah, coba deh mulai dari resep kecil seperti ini. Nggak perlu langsung masak rendang sepuluh kilo. Cukup satu bungkus pepes tahu kemangi, dimakan berdua sambil cerita soal hari-hari lama. Kadang yang bikin hidup terasa hangat bukan makanan mahal, tapi tahu bahwa kita masih bisa memasak untuk orang yang kita sayang.
Selamat mencoba, dan kalau kamu punya versi pepes sendiri, ceritakan saja di kolom komentar. Saya selalu penasaran sama variasi bumbu orang lain — siapa tahu ada yang lebih pas buat lidah kami di rumah.